YAng Cinta Ibunya Mari Saksikan Tayangan Di Bawah Ini
Yang Mau Membaca Ceritanya Baca di Sini
II
II
KUMPULAN CERITA SEORANG IBU BUTA DEMI ANAKNYA
Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang
menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan,
kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena
kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang
harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu.
Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku. Aku ingin menjadi
yang terbaik, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam
keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah
dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak
semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah.
Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan
keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan
di sebuah rumah jahit sederhana.
Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena
sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak menginap di
rumahku. Karena rumah kumuh itu membuatku muak,membuat kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.
Tepat di saat istirahat, salah satu guru yang berpapasan denganku di kantin sekolah memanggilku. “Hocky Nawawie”
Kau kedatangan tamu!” ucap guru yang berpapasan denganku itu. “Siapa
Bu?” Lihat saja ke ruang tamu sekolah!” Perintah guru itu segera
kulaksanakan. Aku berjalan melewati lorong-lorong kelas yang sedang
ramai. Anak-anak sepantarku sedang asyik-asyiknya menikmati hidup yang
semu ini. Beberapa menit kemudian sampailah aku di depan pintu ruang
tamu sekolah. Kulihat sosok wanita tua sedang duduk. Bajunya pun
bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. Dan
yang selalu membuat aku malu.
“Hockyyyyyyy” Ibu memanggilku.
“Mau ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!”
Beberapa anak-anak yang sedang berjalan di depan ruang tamu sekolah
melihat ke dalam ruangan yang menjadi neraka bagiku. Bentakkan dariku
membuat dirinya ingin segera bergegas pulang. Dan itulah memang yang
kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku.
Karena kehadirannya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai
beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hocky. IBU MU MATANYA SATU
YAH?”Terasa suntikan yang mematikan mendapat pertanyaan seperti itu, aku
hanya melewatinya dengan wajah sinis.
Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan diterima di sebuah
Institut Negeri di Singapura. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar,
kukejar dan aku ternyata berhasil mendapatkannya. Dengan bangga
kubusungkan dada pada orang-orang
yang sempat menghinaku. Aku berangkat pergi merantau ke Singapura tanpa
memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk diriku
sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu mnghalangi
kemajuanku. Karena aku MALU.
Di Singapura, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaranku. Aku
telah sukses dan pada suatu saat aku menikah dengan seorang gadis
Indonesia yang menetap di Singapura. Singkat cerita aku menjadi seorang
yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai
satu anak perempuan berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya.
Bahkan aku menjaminkan nyawa untuk putriku itu.
10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga
dengan harmonis dan nyaris sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib
ibuku. Ibu yang telah melahirkanku ke dunia ini,
membuatku berpijak di dunia. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak
mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.
Hingga pada suatu hari, putri sulungku sedang asyik bermain di depan
pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh
menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibu, Ibuku datang ke Singapura.
Entah untuk apa dan dari mana dia mendapatkan ongkos. Seketika saja Ibu
ku usir. Dengan enteng aku mengatakan:
“HEY, PERGILAH KAU. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa membalas
perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF KALAU BEGITU SAYA SALAH
ALAMAT”
Tanpa merasa terhunus, aku masuk ke dalam rumah. Sempat istri menanyakan
siapa yang datang dan kumarahi, dan aku menjawab “PENGEMIS”.
Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku, SMA N 1 BREBES. Aku
pun datang untuk menghadirinya dengan beralasan pada istriku bahwa aku
akan dinas ke luar negeri. Singkat cerita, tibalah aku di kota
kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit
menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh
teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini. Satu hal yang
kutakutkan, mereka menanyakan ibu ku yang memalukan itu, karena matanya
yang BUTA. Tapi untung saja tak ada sepatah kalimat “IBU” yang
menghantar padaku.
Reuni selesai. Sebelum pulang ke Singapura, aku ingin melihat keadaan rumahku di desa kecil bernama Pebatan.
Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh
dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan
sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri jijik melihatnya.
Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu
terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan bak kapal pecah
yang baru saja terjun dan berhamburan ke tanah. Aku tak menemukan sosok
wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana tapi aku merasa
beruntung tak menemuinya. Bergegas aku keluar dan tiba-tiba salah satu
tetangga dekat rumahku mengenaliku.
“Hocky? akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia dua minggu yang lalu
“OH…
Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Tak tau mengapa tak
ada tetesan air mata. Jangakan tetesan air mata, sedikit rasa sedih saja
tak aku rasakan saat mendengar ibuku meninggal.
“Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”
Ibu-ibu yang menghampiriku segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.
Untuk anakku Hocky yang sangat Aku cintai,Demi Tuhan yang menggenggam nyawaku, yang menguasai ruhku, yang mencintaiku seperti aku mencintaimu walau kau sangat membenciku.Anakku Hocky, Ibu tahu kau akan datang ke acara Reuni yang diadakan oleh sekolahmu. Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap doaku pada Tuhan pemilik arsy! Aku meminta ampunan untukmu nak.Asal kau tau saja Hocky anakku tersayang, mata yang membuat mu malu ini ada di salah satu dari matamu. Waktu kau kecil, kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayah tidak terluka apa-apa sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.Ya ….. salah satu matamu adalah mataku.Kau melihat dengan mataku nak, dan aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.Do’akanlah aku diterima di sisiNya. Saat aku menulis surat ini, aku yakin maut sudah mengetuk pintu kehidupanku.Ibumu tercinta
Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku
terdiam! tubuhku bergetar keras, air mataku sungguh tak kuasa ku
bendung. Ya Allah Ya Robb…………..
Dalam cerita ini kita hendaknya dapat mengambil suatu pelajaran, sejelek apapun orang tua kita mereka tetaplah orang yang paling berjasa
dalam hidup kita. Hidup kita pun tidak akan sempurna bila kita durhaka
kepada orang tua. Sayangilah orang tua kita semasa dia hidup karena kita
tidak akan bisa membalas jasa mereka walaupun kita mengabdi kepadanya
seumur hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar